Menu
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Parenting. Tampilkan semua postingan

sumber gambar : www.onsecrethunt.com


Pernahkah Anda merasa stress dan tertekan saat masih sekolah karena orang tua memberikan les beberapa mata pelajaran sekaligus agar Anda dapat menguasai semuanya? Ataukah saat akan masuk kuliah, apakah orang tua Anda yang memilihkan jurusan yang kelak akan Anda jalani selama beberapa tahun ke depan? Ataukah kini saat Anda sudah memiliki anak yang sudah mengecap bangku pendidikan, Anda juga memperlakukan hal yang sama? Pernah lihat juga orang tua yang sibuk mendandani anak balitanya dalam berbagai lomba foto model hanya demi meraih sebuah piala kemenangan?

Kita semua meyakini bahwa semua orang tua di dunia ini pasti menginginkan hal yang terbaik untuk masa depan anaknya. Apa yang orang tua lakukan diatas sungguh hal yang positif dan tidak salah. Namun di balik semua itu, sebagai orang tua haruslah mengetahui kapasitas atau kemampuan si anak sejauh mana ia dapat mewujudkan keinginan dan harapan Anda. Seorang anak juga memiliki kebebasan dan hak untuk menikmati masa-masa bahagianya sesuai dengan perkembangan usianya. Lalu, apa saja yang harus diperhatikan oleh para orang tua dalam mendidik anaknya?

1. Anak Tak Harus Serba Bisa di Semua Pelajaran
Seorang anak yang masih sibuk mengenyam pendidikan sekolah seringkali dituntut orang tuanya untuk serba bisa di semua mata pelajaran. Bahkan, tak tanggung-tanggung orang tua mengeluarkan biaya untuk memberi les ‘ini itu’ agar anaknya lebih pintar. Apalagi ketika diketahui anaknya lemah di suatu pelajaran tertentu, gojlokan terhadap anak akan terus dilakukan dengan harapan si anak dapat segera memahami & menguasai pelajaran yang dianggap sulit tersebut. Tidak ada salahnya para orang tua melakukan hal ini namun harus sesuaikan dengan kapasitas si anak dalam menerima ilmu. Jangan sampai ia justru menjadi stress dan sakit karena menanggung beban dari orang tua dan guru yang membimbingnya. Masih ingatkah Anda dengan kasus seorang anak usia 6 tahun yang stress dan masuk Rumah Sakit Jiwa karena terlalu banyak les? Oleh karenanya, sebagai orang tua diharapkan untuk tetap menyeimbangkan waktu belajar anak dengan tetap menjaga kesehatan, hak dan hiburan sehingga anak Anda takkan merasa tertekan. Sebagai pemahaman, seorang guru saja takkan mampu menguasai semua mata pelajaran yang ada di sekolah. Guru matematika pasti pandai di bidang hitung-berhitung, guru fisika pasti pandai di bisang fisika dst. Lalu, mengapa masih banyak orang tua yang memaksakan anaknya yang masih belia dan minim pengalaman untuk pandai di semua mata pelajaran?

2. Jangan Jadikan anak sebagai Pewujud Hasrat Anda
Saat memiliki anak yang masih kecil, seringkali orang tua memiliki hasrat untuk masa depan anaknya, misalnya harus jadi pilot, dokter, foto model dsb. Tak ada salahnya jika Anda sesekali mengikutkan anak dalam lomba foto model namun jangan sampai Anda mengurangi kebahagiaan masa kecilnya lantaran Anda sibukkan dengan berbagai ‘hasrat’ yang ingin Anda wujudkan tersebut. Apalagi harus mengorbankan waktu sekolahnya hanya untuk mengikuti berbagai lomba ‘non formal’ dengan frekuensi yang tinggi. Contoh lainnya, saat anak akan masuk di perguruan tinggi, seringkali orang tua memaksakan dia untuk masuk di jurusan yang dipilih dengan asumsi bahwa pilihan orang tua pasti bagus untuk masa depannya. Di sisi lain, si anak tak memiliki ‘keberanian’ untuk menolak orang tua karena merasa telah dibiayai mahal untuk pendidikannya. Akhirnya, si anak mengalah dan menjalani masa kuliahnya walaupun kurang sesuai dengan hati nuraninya. Efeknya akan terlihat saat ia lulus dan bekerja. Apakah jurusan saat kuliah tersebut terpakai saat bekerja? Ataukah ia justru unggul bekerja di bidang lainnya sesuai passion dia walaupun berlawanan dengan jurusan yang ia ambil saat kuliah?
Masalah akan berbeda ketika orang tua sudah menyadari bakat anaknya dan ingin mengasahnya agar bermanfaat. Setiap orang pada dasarnya memiliki kemampuan bawaan yang terkadang sudah terlihat sejak ia masih kecil. Jika anak Anda sejak kecil suka menyanyi, tak ada salahnya Anda mengarahkannya untuk ikut les vokal. Atau saat Anda mengerti bahwa anak Anda suka menggambar desain baju dengan kualitas yang baik, mungkin Anda bisa mengarahkannya untuk menjadi seorang desainer di masa depan. Dalam hal ini, orang tua dianggap sukses ’memposisikan dirinya’ berperan untuk masa depan anaknya.

1429240916473563590
sumber gambar : www.kesekolah.com

3. Jangan Mendidik Anak terlalu Ekstrim
Anak mana yang tak merasa nyaman ketika orang tua mendidiknya dengan kelembutan dan senyuman? Tentu anak akan dapat menerima ilmunya dengan maksimal karena sejalan dengan hatinya. Dibandingkan jika Anda selalu mengutamakaan didikan yang keras, arogan bahkan ekstrim sejak anak masih kecil, misalnya Anda memukulnya saat anak melakukan salah atau berkata kasar didepannya saat anak melanggar aturan Anda. Dalam hal ini, si anak justru menerima ilmunya dengan penuh kegelisahan karena ia merasa kurang bebas untuk berekspresi. Mungkin si anak akan patuh dan dapat mewujudkan segala hal yang Anda perintahkan. Namun disisi lain, hal yang harus Anda pahami bahwa mendidik anak dengan kekerasan akan memunculkan sebuah paradigma, bahwa anak Anda nurut karena ‘takut’ pada Anda, bukan karena ‘segan dan patuh’ sebagai anak yang menyayangi orang tuanya.

4. Jadilah ‘teladan’ bagi si anak
Saat orang tua memberikan sebuah petuah atau pendidikan kepada anak tentang hal tertentu, ada baiknya orang tua bisa memberi contoh agar si anak terbiasa untuk melakukan hal yang Anda sampaikan tersebut. Ketika Anda menyuruh anak untuk rajin beribadah, sedari kecil ajaklah dia beribadah bersama Anda agar ia mengerti tata cara dan doa yang harus diucapkan ketika berkomunikasi dengan Tuhan. Atau ketika Anda menyuruh anak untuk pandai bersosialisasi, berilah contoh dengan cara yang positif, misalnya mengenalkannya kepada seluruh teman-teman Anda, rajinlah menyapa setiap orang yang lewat di depan rumah atau ajaklah anak untuk ikut berbagai kegiatan ringan di kampung agar ia semakin mengenal banyak orang.

Itulah beberapa hal yang dapat saya sampaikan sehubungan dengan cara mendidik anak agar sesuai dengan kapasitasnya sehingga menghasilkan kehidupan keluarga yang lebih harmonis, bahagia dan mengantarkan anak Anda untuk mencapai masa depan yang gemilang. Setiap anak dilahirkan memiliki talenta masing-masing, bantulah mereka untuk menikmati setiap detik pertumbuhan agar mereka dapat mendayagunakan bakatnya tersebut untuk mencapai cita-cita mereka. Ketika Anda dikaruniai Tuhan seorang anak yang multi talenta, bersyukurlah dan jagalah talentanya agar selalu berkembang dari waktu ke waktu. Semoga Anda selalu menjadi orang tua bijak dan paham memposisikan diri dalam mengarahkan masa depan anak.


@Riana Dewie


0


14309698431641751072
Perkalian dengan metode garis (Dok.Pri)


Matematika itu sulit? Wajar jika banyak orang mengatakan demikian, mengingat bahwa di masa lalu, mungkin kita memiliki kenangan buruk alias dapat nilai jelek saat mengikuti mata pelajaran ini di sekolah. Hehehe... Jangan khawatir, dari waktu ke waktu ternyata makin banyak orang cerdas yang terlahir di muka bumi ini yang menciptakan berbagai metode perhitungan dengan lebih mudah dan simpel.  Salah satu metode perhitungan perkalian ala Jepang yang sudah booming sejak beberapa tahun lalu adalah perkalian dengan 'metode garis'.

Ini adalah metode perhitungan manual. Alatnya cuma 2, yaitu pena dan kertas. Perhitungan dengan metode ini mampu mengembangkan otak secara seimbang karena lebih mengedepankan ‘pemahaman’ daripada ‘menghafal’. Bagi Anda yang masih kesulitan mengajarkan matematika untuk anak-anak di rumah, metode ini patut dicoba. Silahkan dimulai dari angka kecil terlebih dahulu.

Cara menghitung perkalian dengan metode garis :


1. Buat Garis mulai dari kiri dan bawah (bisa dengan arah lain, sesuai dengan kebiasaan asalkan menyilang arahnya).


1430968673770118784
Cara Membuat Garis. dimulai dari Kiri dan Bawah (Dok.Pri)

2. Hitung titik-titik yang ada didalamnya dengan cara menyilang dan dapatkan jawabannya.
14309687571142508005
Cara Menghitung Titik

Kelemahan metode ini :

1. Metode ini efektif untuk menghitung bilangan yang kecil, misal 1, 2, 3. Contohnya : 21 x 32. Tapi jika Anda menggunakan bilangan besar misalnya : 87 x 96, Anda tetap bisa menghitung namun akan menghabiskan banyak waktu untuk membuat garisnya.

14309699371367914782
Angka kecil memudahkan pehitungan dengan metode garis (Dok.Pri)


2. Metode ini juga lebih mudah untuk menghitung perkalian angka dengan jumlah digit sedikit, maksimal 3 digit, misalnya : 123 x 231. Dengan 3 digitpun, jika angkanya besar, misalnya 456 x 756 juga sudah sulit dihitung. Apalagi untuk perhitungan mulai 4 digit, misalnya 2431 x 4433, sudah tentu akan semakin sulit dihitung karena hasil akhirnya akan semakin membingungkan. Jadi khusus masalah ini, saya belum menemukan cara menghitung hasil akhirnya.

Berikut contoh untuk perkalian 123 x 456

1430969235961731835
Masih bingung cara baca hasil akhirnya
Jika dihitung dengan kalkulator, 123 x 456 = 56.088. Namun jawaban angka-angka dari perhitungan diatas adalah 4, 17, 33, 14 dan saya masih kebingungan cara menginterpretasikan jawabannya.

3. Metode ini juga tidak berlaku untuk perkalian yang memiliki angka nol (0), misalnya : 203  x 401. Bagaimana cara mendiskripsikan angka nol dalam bentuk garis? Saya masih belum menemukan solusinya.

***

Untuk semakin memudahkan pemahaman Anda, saksikan video tutorial perkalian dengan metode garis di bawah ini :



Nah inilah gambaran perhitungan perkalian dengan metode garis. Masih banyak yang saya pertanyakan perihal metode ini. Apakah perkalian ini sungguh bisa diangkat sebagai metode praktis yang semakin mempermudah siswa belajar matematika di sekolah? Jika memang validitasnya bisa dipertanggungjawabkan dan berbagai kelemahan yang saya utarakan diatas (mungkin masih banyak kelemahan lain yang belum ditemukan) bisa terjawab, otomatis metode ini harus disosialiasikan kepada seluruh masyarakat untuk menjawab keluhan banyak orang, bahwa matematika itu sebenarnya mudah. Ya, dengan metode ini, kita bisa belajar sambil bermain. Tidak perlu menghafal, cukup mengerti cara membuat garis dan menentukan angka-angka jawabannya. Siap-siap singkirkan kalkulator nih.. hehehe. Selamat mencoba.

@Riana Dewie

.


Sumber referensi :
http://azmi648.blogspot.com/2014/10/perkalian-dengan-metode-garis.html
https://www.youtube.com/watch?v=eGoUN6ARZok




7

Kompetisi Menulis 'Stop Kekerasan dan Eksploitasi Seksual Anak Indonesia'






Hati saya merasa tergerak saat saya membaca iklan kompetisi menulis bertema “kekerasan seksual pada anak” di kompasiana yang diadakan oleh Yayasan Gugah Nurani Indonesia | Human Rights Working Group | SAPA Indonesia | #ForumHakAnak25. Saya serasa ditarik kembali di masa lalu, dimana saya pernah melihat peristiwa tidak menyenangkan yang dialami orang-orang di sekitar saya saat itu. Dan hingga tumbuh dewasa, fenomena kekerasan seksual kepada anak ternyata semakin menjamur, bahkan tak jarang dilakukan oleh orang terdekat mereka.

Psikologi anak akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan yang ada disekitarnya. Jika sejak kecil ia tumbuh dalam lingkungan yang baik, memiliki keluarga yang cukup memberikan pendidikan moral dan agama, memiliki teman-teman yang baik dan dekat dengan orang-orang yang bertanggung jawab dipastikan mental anak itu akan berkambang baik bahkan akan berpengaruh positif pada psikologinya karena info yang ia terima sejak kecil adalah informasi yang bersifat ‘membangun’. Sebaliknya, apabila ia tinggal dalam lingkungan yang kurang bersahabat, sering menyaksikan kekerasan di sekitar tempat tinggalnya (bahkan di rumah sendiri), kurang mendapatkan pendidikan moral dan agama dari keluarganya atau bahkan ia sendiri mengalami kekerasan fisik ataupun seksual yang dilakukan oleh orang terdekatnya, tentu ini akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologi anak itu. Ia akan berjalan dengan arah yang tak tentu dan hal ini tentu tidak baik untuk perkembangan mentalnya.  Ibarat membuat kue, jika bahan pembuat adonannya tidak pas (kurang atau lebih), tentu kue yang dihasilkan setelah dipanggang juga kurang enak, mungkin kurang manis, bantat, kurang mengembang, kurang beraroma dsb. Begitu pula dalam memberikan pendidikan kepada anak.

Berikut ini saya memiliki 2 cerita nyata dari lingkungan sekitar tempat tinggal saya yang berhubungan dengan kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur :


CERITA 1
MIRIS, ‘KEKERASAN SEKSUAL’ OLEH PENJUAL MAINAN INI SAYA SAKSIKAN LANGSUNG

Tiba-tiba saya terbawa ke masa lalu, kira-kira tahun 1996, saat saya masih berada di bangku SD, dimana saya melihat seorang teman saya menerima pelecehan seksual dari seorang penjual mainan keliling yang sering berhenti di dekat rumah. Rasanya wajar ya apabila anak kecil seusia Sekolah Dasar masih suka membeli mainan, pernak-pernik, permen cicak, coklat roti, snack ringan dari para penjual mainan keliling, baik di area sekolah ataupun di rumah. Saat itu saya memiliki 2 teman lain yang dulu pernah menjadi teman sepermainan saya. Ada pula pelakunya, sebut saja Bapak X, seorang Bapak yang berjualan mainan anak-anak dan seringkali  berhenti di dekat rumah. Dengan menggunakan sepeda yang dilengkapi dengan rak bambu yang ditempelkan di atas sepedanya, Bapak X mengatur seluruh barang dagangannya dengan sangat ciamik sehingga wajar jika menarik perhatian banyak anak saat itu, termasuk saya dan kedua teman saya.

Hampir setiap hari kami menunggu kedatangan Bapak itu saat libur sekolah. Ya, setiap jam 8 pagi, Bapak itu pasti berhenti dan banyak anak-anak berlarian langsung menghampiri Bapak X, layaknya semut-semut yang melihat gula. Pada awalnya, semuanya baik-baik saja. Namun setelah sekian kali kami membeli, saya melihat ada yang aneh dengan Bapak X. Pandangan dia sangat aneh kepada kami bertiga, dimana kami adalah anak perempuan semua. Ada seorang teman saya yang pada saat itu paling dewasa sehingga perkembangan organ tubuh remajanya adalah yang paling menonjol dari pada saya dan 1 teman lainnya. Dengan tanpa bersalah, saya melihat langsung tangan Bapak X meraba tubuh bagian depan (dada) teman saya tadi. Tidak hanya sekali, setiap kali kami bertiga membeli dagangan dia, dia selalu mengulang hal sama. Saya beruntung karena saat itu saya masih tergolong kecil secara fisik sehingga mungkin kurang menarik perhatian Bapak X. Melihat kejadian yang menimpa teman saya tadi, saat jajan di tempat Bapak X, saya selalu berusaha menjauh dari jangkauan Bapak X untuk kewaspadaan. Dan akhirnya, suatu ketika saya ajak teman saya yang jadi korban tadi untuk membeli dagangan Bapak X di lain hari. Namun dia tidak mau, dengan menjawab : “Enggak mau ah. Takut diraba lagi.”

Entah apa yang dirasakan teman saya itu. Mungkin dia merasakan trauma, walaupun saat itu saya pun tidak menyadarinya karena pemikiran kami juga belum sejauh itu untuk seusia anak SD. Hal yang membuat saya heran, saat peristiwa kekerasan terjadi, teman saya hanya diam, seakan takut dan mengikuti keinginan bejat Bapak X, walaupun mungkin di dalam hatinya Ia ingin menjerit karena ketakutan dengan apa yang dialaminya ini. Dia pun tidak berani mengadu ke orang tuanya karena mungkin takut terjadi masalah. Jadi, dia menutup rapat masalah ini, dan hanya kepada saya dan 1 teman yang lain dia berani bercerita.

Setelah teman saya menolak ajakan untuk beli mainan di tempat Bapak X, saya sendiri pun merasakan kekhawatiran yang hampir sama. Khawatir jika saya akan menjadi korban selanjutnya sehingga saya pun berhenti untuk jajan mainan di tempat Bapak X beberapa tahun lamanya hingga saya beranjak dewasa. Dan akhirnya, sejak peristiwa itu, teman saya menjadi sangat protektif terhadap orang yang lebih dewasa. Bahkan saat dia berumur 20 tahun an, dia pun masih sangat protektif melindungi dirinya dari laki-laki. Mungkin ini semacam trauma akibat peristiwa yang pernah dialaminya ketika masih kecil itu. Kisah ini membuktikan bahwa kekerasan seksual yang dialami anak memang membawa dampak buruk bagi perkembangan otak dan psikologinya, diantaranya adalah menyebabkan trauma.


CERITA 2
ANAK 10 TAHUN MENDAPAT KEKERASAN SEKSUAL SAAT DISURUH BELANJA IBUNYA
Ini cerita tragis selanjutnya yang terjadi di kisaran awal tahun 2000. Masih dialami oleh orang di sekitar saya, yaitu anak dari tetangga yang berjarak hanya 2 rumah dari rumah saya. Ada seorang keluarga yang tinggal disana, dimana sang ayah sehari-harinya mencari nafkah dengan berjualan bakso keliling. Mereka memiliki 3 orang anak dan yang terkecil saat itu masih berusia kira-kira 10 tahun (perempuan dan satu-satunya). Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka hidup seadanya dalam rumah yang sederhana. Untuk biaya sekolah anak-anak sepertinya sulit diperjuangkan sehingga hampir semua anaknya putus sekolah setelah lulus SD dan selanjutnya anak-anak itu dididik untuk bisa mencari uang sendiri.

Dalam keseharian, saya sering melihat kekerasan yang dilakukan oleh sang ibu, dimana sang ibu sering membentak dan memukul anaknya, tak jarang ibunya sering mengusir anaknya dari rumah jika tidak mau menuruti keinginannya. Belum lagi keadaan rumah tangga ayah dan ibunya yang kurang harmonis, sehingga tak jarang pertengkaran hebat terdengar hingga di tempat istirahat kami. Hal ini mencerminkan bahwa anak-anak mereka dipastikan tumbuh dalam lingkungan yang kurang baik dan terdidik dalam tekanan orang tua yang seharusnya tidak mereka rasakan saat itu.

Suatu kali, anak perempuan yang menjadi anak bungsu mereka disuruh sang ibu untuk membeli beberapa bumbu yang masih kurang untuk membuat bakso. Dengan nada tekanan yang diterima anaknya, akhirnya si anak pergi belanja dan ini merupakan hal biasa dalam kesehariannya. Sepulang dari belanja, ada seorang laki-laki dewasa, kira-kira berumur 30 tahun yang juga adalah warga desa kami, mengajak si anak ke sebuah kebun kosong dengan diiming-imingi akan diberi uang banyak. Si anak pun menurut dan akhirnya laki-laki itu melancarkan perbuatan bejatnya kepada si anak. Dia melakukan kekerasan seksual (pemerkosaan) berkali-kali dan si anak tetap diam saja. Hal ini terjadi di sore hari. Selesai melakukan aksi bejatnya, laki-laki itu memberinya uang sebesar Rp.5.000 sebagai uang tutup mulut.

Sesampainya di rumah, si anak menceritakan kejadian yang dialaminya kepada sang Ibu. Sontak si ibu kaget dan mencari tahu siapa pelakunya. Saya kurang memahami dengan akhir prosesnya, namun saat itu saya hanya mendengar bahwa pelakunya sudah diketahui oleh orang tua korban. Dan seiring berjalannya waktu, kejadian itupun tak tak membuat orang tuanya jera untuklebih waspada menjaga anaknya. Ketika sang anak beranjak remaja, si ibu justru berniat menjual anaknya ke laki-laki yang dianggap kaya dengan tujuan agar anak perempuannya hidup tercukupi secara materi. Si anak yang tidak mau dipaksa menikah akhirnya lari dari rumah hingga beberapa bulan. Sampai akhirnya sejak peristiwa itu, si anak justru masuk ke lingkungan prostitusi dan menghalalkan cara itu untuk mencari uang.

Kisah ini memberikan sebuah pesan moral kepada para orang tua bahwa sebagai orang tua, kita memang harus berjuang keras untuk memberikan pendidikan terbaik kepada anak, mengawasinya setiap saat (apalagi untuk anak perempuan), melakukan pendekatan dari hati ke hati agar anak bisa selalu jujur dalam segala hal. Hindari pula tindakan kekerasan terhadap anak karena ini akan membuat anak merasa tidak terlindungi, merasa tidak aman walaupun bersama orang tuanya sendiri.



RAGAM ‘KEKERASAN SEKSUAL’ PADA ANAK
Pada intinya, maksud kekerasan seksual pada anak adalah seseorang yang memanfaatkan anak untuk mendapatkan kenikmatan atau kepuasan seksual. Apakah ini berarti tebatas pada ajakan berhubungan seks saja? Tentu tidak. Kekerasan seksual pada anak ada beragam bentuknya, diantaranya adalah sebagai berikut (diambil dari berbagai sumber) :
  • Pelaku menyentuh tubuh anak secara seksual, misal meraba atau mengelus organ vital anak seperti alat kelamin (vag*na, pen*s), bagian pantat, dada/payudara.
  • Pelaku melakukan segala bentuk penetrasi seks, termasuk penetrasi ke mulut anak menggunakan benda atau anggota tubuh.
  • Pelaku secara sengaja melakukan aktivitas seksual di hadapan anak, misalnya mengeluarkan organ kelamin secara sengaja agar si anak melihatnya.
  • Pelaku mengambil gambar atau merekam anak dalam aktivitas yang tidak senonoh, misalnya saat anak mandi, membuka baju dll.
  • Pelaku membuat, mendistribusikan dan menampilkan gambar atau film yang mengandung adegan anak-anak dalam pose atau tindakan tidak senonoh.
  • Pelaku mengajak anak menonton film dewasa (pornografi) atau memperlihatkan gambar-gambar aktivitas seksual yang tidak senonoh.
  • Pelaku melakukan percakapan seksual dari telepon, chatting, sms, video call dll yang isinya bermuatan seksual, baik secara eksplisit (bahasa lugas) maupun implisit (tersamar).
  • Pelaku menarik anak dalam pelacuran anak di bawah usia 18 tahun.
  • Pelaku melakukan perdagangan anak-anak sebagai perbudakan/eksploitasi ekonomi.
.
SIAPA YANG BERPOTENSI MELAKUKAN ‘KEKERASAN SEKSUAL’ PADA ANAK?
Setiap orang bisa menjadi pelakunya. Pelakunya kebanyakan adalah kaum pria, namun tak jarang kasus kekerasan seksual di dunia ini juga dilakukan oleh kaum wanita. Oleh karena itu, setiap orang tua yang memiliki anak di bawah umur, harap selalu waspada dengan selalu mengontrol keberadaan dan aktivitas anak-anak mereka. Kekerasan seksual pada anak sering dilakukan oleh orang-orang terdekat, seperti saudara, sepupu, teman, bahkan tak jarang dilakukan oleh orang tua sendiri, baik itu kandung ataupun tiri. Kasus lain adalah di sekolah, tempat yang dianggap paling aman karena disinilah pusat pendidikan anak justru sering menjadi wadah seks oleh oknum tak bertanggung jawab. Sering kita mendengar kejahatan seksual yang dilakukan oleh sang guru. Kasus lain, belum lama ini kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh petugas kebersihan di sekolah Internasional Jakarta bulan April 2014 silam. Ini adalah bukti riil bahwa tindak kekerasan seksual bisa dilakukan dimanapun dan oleh siapapun.
.

BAGAIMANA KONDISI KORBAN ‘KEKERASAN SEKSUAL’?
Faktanya, kekerasan seksual yang menimpa anak-anak ternyata terbilang tinggi jumlahnya dan cukup menonjol bila dibandingkan kekerasan psikologis seperti membentak, mengancam, atau memaksa. Namun, sebagai tindak sebuah kejahatan, kekerasan seksual kepada anak menjadi masalah yang sangat memilukan karena akan banyak dampak negatif yang dirasakan oleh si korban. Apa saja dampaknya? Berikut ulasannya :

  1. Dampak Psikologis : Traumatik yang dialami korban kekerasan seksual begitu mendalam dan sulit untuk disembuhkan. Selain itu, stres yang disebabkan oleh pelecehan seksual menyebabkan perubahan penting dalam fungsi dan perkembangan otak korban.
  2. Dampak Infeksi : Pelecehan seksual pada anak dapat menyebabkan infeksi dan penyakit menular seksual.
  3. Dampak Cidera Tubuh : Pelecehan seksual anak dapat menyebabkan luka internal dan pendarahan. Pada kasus yang parah, kerusakan organ internal dapat terjadi dan dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kematian. Hal ini dipengaruhi oleh umur anak dan tingkat kekuatan pelaku saat melakukan kejahatannya.
  4. Dampak Sosial : Korban pelecehan seksual sering dikucilkan dalam kehidupan sosial, hal yang seharusnya kita hindari karena korban pastinya butuh motivasi dan dukungan moral untuk bangkit lagi menjalani kehidupannya.



MENGAPA PELAKU ‘KEKERASAN SEKSUAL’ DI INDONESIA TIDAK JERA?
Dari hari ke hari, kekerasan seksual pada anak seakan dihalalkan oleh beberapa oknum tak bertanggung jawab. Mengapa para pelaku tidak jera juga melakukan aksi bejatnya? Berikut ini alasannya :
  1. Ancaman hukuman yang relatif ringan dan sistem penegakan hukum lemah. Ancaman hukuman minimal 3 tahun dan maksimal 15 tahun membuat kasus-kasus kekerasan seksual tenggelam selama bertahun-tahun.
  2. Korban sering menghindari proses hukum karena biaya administrasi yang sangat tinggi.
  3. Saat negara lain sudah berani menerapkan ancaman hukuman mati, kebiri, sistem ‘black list’ serta berbagai kebijakan untuk menahan ledakan kekerasan seksual, Indonesia seolah-olah ‘tutup mata’, terutama karena ada ‘budaya malu’ dan ‘tidak berani mengakui’ fakta ini sebagai masalah besar di negara kita.
  4. Proses hukum yang rumit dan berbelit-belit serta penanganan yang kurang manusiawi kepada korban, misalnya korban dibiarkan tumbuh tanpa intervensi psikologis yang tepat sehingga membuat korban tidak memiliki keadilan hukum. Hal ini menjadi celah para pelaku untuk tidak jera mengulang aksinya.
Oleh karena itu, mulai sekarang masyarakat bersama pemerintah harus memiliki kesadaran tentang pentingnya memberikan perlindungan hukum yang kuat kepada anak-anak korban kekerasan seksual dan memberikan ancaman hukum yang tegas kepada pelaku agar memberikan efek jera kepada pelaku. Pemerintah pasti bisa melakukannya asalkan hal ini ditangani dengan cepat dan serius.


CARA MEMINIMALKAN TINDAK ‘KEKERASAN SEKSUAL’ KEPADA ANAK
Dari banyak kasus yang telah terjadi, korban biasanya menutup rapat kejadian yang menimpanya karena si pelaku mengancam untuk menyakiti si anak, orang tuanya, atau adik dan kakaknya bila anak mengadu. Kondisi ini memang sungguh memprihatinkan.




Oleh karena itu, orang tua adalah kuncinya. Jagalah anak Anda, walau harus dengan perjuangan keras. Berikan pemahaman kepada anak agar ia terhindar dari kejahatan seksual. Hal ini juga dibenarkan oleh Kak Seto Mulyadi, seorang aktivis anak yang selalu melakukan kampanye untuk melindungi hak anak-anak di Indonesia. Berikut pesan kak Seto kepada para orang tua untuk mencegah terjadinya kekerasan seksual kepada anak :

1.Edukasi seksual sejak dini
Jangan menganggap ini adalah tabu. Edukasi seksual sebaiknya diberikan kepada anak dengan kata-kata yang ringan dan mudah diingat. Berikan edukasi untuk anak di atas lima tahun.
2. Komunikasi
Komunikasi adalah salah satu kunci utama untuk meningkatkan keharmonisan keluarga dengan membangun suasana yang hangat dan nyaman sehingga anak-anak akan merasa aman dan bebas bicara.
3. Jadilah sahabat anak
Orangtua harus bisa menjadi sahabat anak. Dengan demikian, anak merasa bebas bercerita segala hal yang dialaminya. Dengan memiliki orangtua yang akrab dan terbuka, anak akan merasa memiliki teman terbaik yang bisa membuat mereka tidak merasa sendiri.


KEMANA MENCARI BANTUAN PERLINDUNGAN ANAK?
Hubungi Lembaga-lembaga di bawah ini jika Anda menemukan kasus kekerasan seksual pada anak dan juga kasus-kasus lainnya yang berhubungan dengan anak :
  1. Komisi Perlindungan Anak Indonesia
  2. Komisi Nasional Perlindungan Anak
  3. Komnas Perempuan
  4. Lembaga Bantuan Hukum APIK

Demikianlah cerita dan pengalaman yang dapat saya sampaikan. Saya pribadi sangat menyayangkan semua kasus kekerasan seksual yang menimpa seluruh anak di negeri ini. Apalagi saya pernah beberapa kali melihat kasus tersebut yang terjadi di lingkungan saya sendiri. Oleh karenanya, mari kita bersama-sama meminimalkan kejahatan seksual ini dengan mengontrol anak-anak kita, selalu mengetahui keberadaan dia, selalu tahu apa aktivitas dia dan memberikan edukasi-edukasi yang berguna untuk membangun kewaspadaan pada diri anak sehingga dia bisa mengetahui dengan cepat, mana orang baik dan mana yang tidak baik. Dan untuk berbagai media, tolong untuk lebih bertanggung jawab atas tayangan yang rentan dengan propaganda kekerasan seksual, pornografi ataupun pornoaksi. Tayangan yang edukatif tentu lebih bermanfaat bagi anak karena dapat mengisi otaknya dengan berbagai informasi yang positif dan menarik. Dan untuk Pemerintah, tegakkan hukum untuk para pelaku sehingga masyarakat akan merasa lebih terlindungi dan mendapatkan keadilan.

SELAMAT HARI ANAK INTERNASIONAL YANG KE 25


Semoga artikel ini bermanfaat.
Salam Sukses, Riana Dewie.





Sumber Referensi :
http://lipsus.kompas.com/topikpilihanlist/3075/1/kekerasan.seksual.pada.anak.di.indonesia
http://stella-maris.sch.id/detail-article-600-1-mencegah-pelecehan-seksual-pada-anak-panduan-berdasarkan-usia.htm
http://infopsikologi.com/apa-itu-bentuk-pelecehan-kekerasan-seksual-pada-anak-remaja/


0

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Total Tayangan Halaman