Sukses Goyang Lidah dengan Olahan Tempe yang Anti Mainstream



Kaki ini melangkah ke sebuah ruang klasik, mengingatkan saya akan nuansa 50 tahun lalu, dimana meja dan kursi lawas tertata rapi, hampir mirip dengan desain ruang ala Belanda. Di sisi kiri tampak lukisan legendaris, Monalisa, yang senyumnya mempercantik resto ini. Makin maju, sampailah pada pemandangan ruang terbuka, dimana dekorasi bernuansa etnik sangatlah terasa. Agak riuh memang, di sana kami berkumpul bersama teman-teman lainnya untuk menyantap kuliner anti mainstream dengan iringan musik gamelan. Festival kuliner yang ‘Indonesia banget’ ini memang terpampang nyata. Bayangkan saja, kami dipaksa menikmati ragam menu kuliner yang hampir 99% terbuat dari bahan tempe. Ah, mimpi apa semalam.....

Musik gamelan yang mengiringi sinden sungguh menghadirkan sebuah atmosfer yang ‘njawani’ di resto Gadjah Wong, Jogja. Setiap calon penikmat kuliner di festival tempe ini tampak tak sabar untuk incip sajian ‘mewah’ yang aromanya sudah terbang ke indra penciuman kami. Tak lama, mbak-mbak yang bertugas melayani tamu mulai beredar di titik masing-masing. Lega rasanya, akhirnya hidangan minuman pembuka sudah ada di depan mata.

Cold Lemon Grass & Ginger Fusion, segelas minuman yang sangat bersahabat dengan lidah saya. Dengan perpaduan jahe, sereh dan lemon, minuman ini tampak sakti karena sukses menghangatkan tubuh. Efek lain, mata saya terasa lebih segar dan tentunya jauh dari rasa rasa kantuk.



Tak lama, makanan pembuka yang disajikan di atas meja mulai menggoda perut. Sebuah penampakan hidangan yang tak asing dalam balutan nama Spring roll filled with imported soybean tempe. Setiap orang juga bisa mengatakan bahwa ini lumpia. Tapi jangan salah, lumpia yang satu ini sungguh istimewa karena isinya tak biasa, yaitu dijejali bahan olahan tempe dengan kedelai impor yang rasanya..ehmmm nikmat menggigit lidah.



Akhirnya, menu pembuka yang kedua menyusul ke hadapan kami, lebih unik. Local Soybean Tempeto on leaf & root, beberapa menu kece diolah dari tempe lokal yang dihidangkan dalam bentuk akar tanaman, ada pula yang ditaburi bunga. Sangat menyatu dengan alam, dibalur warna-warna cantik sajian ini tentu sungguh menggoda. Rasanya gimana? Beuhhh, unik dan sangat tajam di lidah. Saya sih suka :)



Beranjak ke menu utama, Velvet bean tempe sate with lontong mulai mencabik perut yang dari rumah belum terisi makanan berat. Onggokan menu lezat hadir di depan mata. Dari kemasannya sih sepertinya sate. Ya, ini memang sate. Tapi, sate yang satu ini adalah sate tempe super enak ditemani lontong yang teksturnya hmmmm sangat lembut. Dipercantik dengan kering kentang manis dan peyek lalu diguyur dengan bumbu kacang dengan sambalnya yang membuat lidah saya menari-nari ke level klimaks. Ah, ini kenikmatan yang luar biasa.



Puas menikmati sate tempe, tenggorokan kami diguyur dengan dinginnya Lemon mint squash bernuansa warna alam, hijau dan kuning. Daun mint yang terapung dalam minuman dingin yang agak asam ini makin menyegarkan suasana. Malam itu memang sangat menggoda, beneran :)



Perut seakan tak boleh beristirahat dengan kehadiran menu lain yang masih agak berat menurut saya, Local Soybean Tempeto on leaf & root. Lagi-lagi saya dipaksa mencicip menu unik berbentuk bulat, diolah dari beras. Dibubuhi daun ginseng sebagai garnis yang juga bisa dimakan lalu bagian atasnya diperciki saus tempe yang rasanya sangat khas. Ah, ni perut hampir meledak sepertinya gara-gara dimanja terus-terusan :D



Tenang, kenikmatan ini ternyata belum berakhir. Onde-onde & es campur with local soybean tempe mulai diedarkan oleh mbak-mbak cantik tadi. Sebagai dessert, onde-onde yang diselimuti wijen hitam dan putih ini memang tampil menggoda karena isinya yang tak lain adalah tempe. Apalagi minuman es campurnya, siapa sangka bahan di dalamnya ada tempenya juga? What? Iya, bener. Tempe yang selama ini dikenal sebagai menu makanan, malam ini disulap jadi campuran es manis yang suegerrrr banget. Gak kebayang kan rasanya? Sedaaapppp tauuu, hihihi....



Satu lagi pukulan nikmat yang terakhir saya rasakan saat mencicip menu unik sepanjang masa ini. Snake fruit juice, fem leaves & velvet eban tempeto hadir sebagai hidangan penutup bertekstur cair kental yang lagi-lagi dibuat dari campuran tempe. Rasanya sih seger-seger gimana gitu. Dan akhirnya, makanan ini tak bisa saya babat habis karena perut sudah semakin kencang, tanda aktivitas makan harus dihentikan. Hehe...



***

Ah, menu-menu ‘tempeto’ malam ini memang enak dan bergizi. Semua aman dikonsumsi karena proses pengolahannya melibatkan chef resto Gadjah Wong, Benedicta Setyani serta chef dari nordic food lab, Roberto Flore. Terimakasih undangannya mbak Dwi Larasatie Nur Fibri, baru kali ini saya bisa menikmati olahan tempe yang begitu menggoyang lidah. Semoga sukses menyelesaikan studinya dan penelitian ini kelak dapat memberi manfaat serta inspirasi bagi banyak orang.


The power of tempe kini memang benar-benar saya rasakan. Buat teman-teman, mulai sekarang jangan pernah meremehkan tempe, berbagai olahan tempe nyatanya sukses menjadi hidangan mewah dan mahal di negara-negara sono tuh. Bangga dong :D   

Riana Dewie



2 comments:

  1. Aih...kece2 banget foto2nya..jadi laperrr pengen makann sateee..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wihhhh.. satenya emg gak ada tandingannya.. uenakkk. Thank dah mampir Diba :D

      Delete

Yuuukk, komentar disini :)