Masa-masa Sulit menjadi Anak Tunggal

Sumber Gambar : dailymom.com

Hari ini saya mendapatkan sebuah pelajaran berharga dalam hidup. Kisah nyata menjadi anak tunggal, senang atau susah?

Mungkin yang membaca tulisan ini ada yang bergelar sebagi anak tunggal. Bagaimana rasanya? Tentu sangat menikmati hari-harinya karena anak tunggal cenderung mendapatkan perhatian yang lebih besar dari orang tua karena kasih sayangnya takkan terbagi. Hari ini saya menjenguk seseorang yang sedang opname di rumah sakit. Dia adalah ayah dari seorang teman saya. Teman saya kini bekerja di luar kota dan dia terpaksa harus pulang ke Jogja untuk merawat sang ayah yang sedang sakit di rumah sakit. Kemana ibunya? Tentu karena di usia yang sudah tak muda lagi dan juga sakit-sakitan, sang ibu juga harus banyak beristirahat di rumah dan tidak mungkin bisa menemani suaminya di rumah sakit.

Dilema yang dihadapi teman saya adalah pilihan antara tanggung jawab pekerjaan dan tanggung jawab merawat orang tua. Apalagi saat ini ia bergelar sebagai anak tunggal (perempuan) dimana tak ada saudara kandung yang bisa diajak bekerja sama untuk meringankan beban atau masalahnya. Jika ditanya lebih pilih yang mana antara pekerjaan dan orang tua, tentu ini adalah keputusan yang tak mudah. Di satu sisi, pekerjaaan memang sangat penting untuk melanjutkan hidupnya. Di sisi lain, kesehatan orang tua pun patut diperjuangkan karena siap lagi yang saat ini menemani kita sebagai anak tunggal di dunia ini, jika tanpa mereka. Dan kamu tahu, apa yang dipilih teman saya tadi disaat situasi genting seperti ini? Dia lebih memilih merawat ayahnya yang sakit dan cuti dari pekerjaannya. Pilihan tepat, teman.

Ibarat orang mengatakan bahwa rezeki itu bisa dicari di lain waktu sedangkan kebersamaan dengan keluarga sungguh sangat berharga dan tak selalu bisa diulang di moment masa depan. Memang betul, bagi kebanyakan orang, keluarga adalah rumah berharga bagi mereka yang mampu mengalahkan segala kekayaan duniawi. Tanpa keluarga, mungkin hidup kita akan hampa kecuali bagi mereka yang telah terbiasa (tegar) hidup tanpa orang tua sejak kecil (maaf), mungkin telah berpisah dengan orang tuanya sejak lama atau telah menjadi yatim piatu sejak kecil karena berbagai hal.  Namun bagi kita yang terbiasa merasakan hangatnya kebersamaan dalam keluarga, sekecil apapun itu, sesederhana apapun itu, semiskin apapun itu, tetap saja keluarga adalah pigura terindah yang menghiasi hidup kita.

Saat tadi saya melihat teman saya sedang menunggu ayahnya terbaring lemah di rumah sakit, dia terlihat kesepian. Tak ada orang lain yang bisa menggantikannya berjaga di sana. Andai ada keluarga besar pun, mereka hanya sekali datang menjenguk dan tak bisa menggantikan untuk berjaga di rumah sakit karena mereka lebih berat mementingkan pekerjaan. Teman saya juga sungguh memahami kondisi ini. Ia bilang bahwa memang ini jalan satu-satunya yang harus ditempuhnya untuk bisa memperjuangkan kesehatan sang ayah, mulai dari dadakan pulang ke Jogja dan minta cuti kepada atasannya, mengantarkan sang ayah cek kesehatan, mengantarkan opname ke rumah sakit karena HB yang hanya di angka 4, mencarikan 4 kantong darah dalam sehari dimana memerlukan waktu dan tenaga untuk mengurusnya ke PMI hingga menunggui ayahnya di rumah sakit sambil melengkapi segala keperluan kesehatan yang harus diprioritaskan.

Salut untuk teman saya yang satu ini. Semua perjuangannya takkan sia-sia. Dulu yang terlihat manja dan berpangku tangan, kini ia tampak sebagai pejuang keluarga yang kuat dan tegar. Memang begitulah yang harus kamu lakukan teman. Hidup ini hanya sekali dan inilah yang harus kita manfaatkan sebaik mungkin untuk menjalankan tugas sebagai manusia, makhluk sosial dan sebagai anak yang berbakti kepada orang tua. Bagaimanapun juga, menjadi anak tunggal bukanlah pilihan kita. Jika ditanya tentu setiap orang ingin punya saudara kandung agar ada teman yang kelak bisa diajak bermain bersama, belajar bersama atau berkompromi tentang segala hal yang terjadi.

Saya sendiri saat ini bukanlah anak tunggal sehingga memiliki kesempatan untuk berbagi dengan saudara kandung dalam menghadapi segala hal. Untuk seluruh anak tunggal di dunia, tersenyumlah karena hidupmu penuh kehangatan dan kebahagiaan. Menjadi anak tunggal itu baik asal jangan tersesat dengan doktrin ‘manja’. Anak tunggal harusnya tak terbentuk menjadi manja namun sebaliknya, harus terdidik sebagai anak yang kuat dan mandiri karena kelak dialah satu-satunya penentu segala kebijakan terkait keluarganya, orang tuanya. Belajarlah mulai dini agar kelak saat menghadapi cobaan hidup yang lebih besar, kita tak mudah tumbang karenanya.

Riana Dewie

Artikel ini sebelumnya telah diposting di Kompasiana dengan judul "Masa-masa Sulit Menjadi Anak Tunggal"


13 comments:

  1. Replies
    1. Makasih Mb Vik. Sudah halan-halan kesinihh :D

      Delete
  2. Aku dulu pas kecil juga mengira anak tunggal tu enak, apa2 bisa buat sendiri, terutama makanan. Aku lupa, anak tunggal tu tanggung jawab kpd orang tua juga sendiri, tdk dibagi2. Jd aku bersyukur tidak mnj anak tunggal.. Hihi..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak bener. Pastinya ada suka suka masing2 bagi setiap peran. Semoga bisa disyukuri

      Delete
  3. Bener banget, anak tunggal bukan berarti harus jadi anak manja, yang apa-apa terima beres. Karena akan tiba saatnya ayah ibunya menua, siapa lagi yang akan menjaga dan merawatnya jika bukan si anak itu sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Nah itu mbak nilainya. Kadang susahnya gakda yang bisa diajak sambatan .

      Delete
  4. iya juga ya, kadang kita lihatnya anak tunggal itu serba manja dan enak, tapi dibalik itu punya tanggung jawab yang lebih besar ya mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huum mbak. Begitulah. Tetap disyukuri dengan apa adanya kita skrg yaaa.. pasti ada nikmat dari setiap peran

      Delete
  5. Semoga temannya dikuatkan. Apapun di dunia selalu punya dua sisi. Kasih sayang yang tercurah seluruhnya pada anak tunggal, seiring dengan tanggungjawab yang dipikulnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul mbak Ety. Disyukuri & dinikmati ya apa adanya kita skrg.

      Delete
  6. hehehehhe aku pikir anak tunggal enak, ternyata sedih juga ya kalau semua beban dikasih ke si anak satu2nya ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Aga. Kadang sedih juga. Tapi pasti ada hikmah dari setiap kejadian & kondisi.

      Delete
  7. Risiko jadi anak tunggal. Klo ortu sakit jadi kepikiran dan gak fokus. Mending klo masih tinggal di satu daerah yg sama. Lha klo beda daerah/beda pulau? Nice story mbak :)

    ReplyDelete

Yuuukk, komentar disini :)