Apakah Anda Termasuk Korban Internet?


Sumber Gambar : www.kawankumagz.com

Sebenarnya saya kebingungan harus menulis dari mana untuk mengungkapkan beberapa hal yang menurut saya semakin darurat terjadi di zaman modern ini. Saya bingung, bukan karena saya sulit mencari kata-kata yang layak dibaca, namun sulit karena saya sendiri telah menjadi korban akan adanya hal ini. Bahkan, banyak orang di dunia ini telah ‘ketagihan’ dengan ini dan rasanya sangat sulit untuk lepas karena perkembangannya takkan bisa dikendalikan oleh apapun, kecuali kontrol diri sendiri.

Ya, yang saya bicarakan adalah duet perkembangan teknologi yang telah mengubah dunia makin modern hingga detik ini, yaitu internet dan gadget. Inilah yang menimbulkan sebuah fenomena tragis dimana seluruh manusia di bumi ini mengubah kesehariannya menjadi ‘menunduk’. Saat berjalan mencari makan, banyak orang menunduk sambil buka-buka ponselnya. Saat sampai di kantor, bukan langsung bekerja tapi malah menunduk membuka gadgetnya. Saat sampai di rumah, bukannya langsung prepare bersih-bersih diri namun malah menghabiskan waktu untuk ngegame dari tabnya. Saat masuk antrian bayar pajak, bukan melihat berapa sisa antrian yang harus kita sabari, namun justru asyik menunduk karena chat dengan temannya. Dan lagi-lagi, mereka menunduk dengan bumbu cekikikan dan senyum-senyum sendiri tanpa menghiraukan keberadaan orang lain disekitarnya. Hal ini ternyata membuat kita merasa bahagia, punya teman banyak dan merdeka. Tapi tahukah Anda, bahwa semua ini adalah semu?

Makin banyaknya manusia yang masuk dunia ‘maya’ ternyata justru membuat hidup mereka makin ‘nyata’ dan berwarna. Ini sungguh membuat miris karena perkembangan teknologi yang meledak dalam kehidupan manusia ternyata menarik mereka dalam kehidupan yang anti-sosial. Sekalipun kita aktif dalam sosial media, namun belum tentu kita aktif dalam kehidupan sosial di dunia nyata. Pernah berpikirkah kita bahwa banyak hal yang sesungguhnya harus kita pahami bahwa ketagihan online ternyata semakin menjauhkan kita dari kehidupan positif bersama orang lain di sekitar kita. Dan ini harus segera dihentikan karena jika tidak, para penerus bangsa akan terlahir menjadi ‘generasi menunduk’ yang kesehariannya hanya dihiasi dengan aktivitas online yang tak selalu berdampak positif.

Di bawah ini adalah beberapa alasan mengapa kita harus mengontrol diri dalam bersosial media dan lebih memprioritaskan kehidupan sosial secara nyata. Ternyata ada banyak hal negatif dari perkembangan gadget dan internet yang harus kita sadari, seperti berikut ini :

1. Mengumbar KETIDAKJUJURAN
Ya, saya mengatakan ketidakjujuran karena inilah yang memang sering dilakukan oleh para aktivis sosial media dimanapun berada, baik di FB, Twitter, Instagram, Path dsb. Mungkin masing-masing diantara kita harus berani jujur dari hati, apakah semua yang kita tulis di sosial media selalu benar? Apakah status-status kita selalu jujur dan sesuai dengan kenyataan yang kita alami? Apakah kita selalu menulis status polos tanpa ada bumbu-bumbu yang mengindahkan?
Anda pasti bisa menjawabnya. Kebanyakan nitizen akhir-akhir ini menjadi puitis ketika suasana hatinya tak menentu. Banyak juga yang menjadi pujangga dadakan dengan gaya bahasa yang menyilaukan hati sehingga menarik perhatian banyak orang untuk ikut andil berkomentar didalamnya. No problem, karena sosial media pastinya ada pemiliknya yang mencantumkan nama (walaupun samaran) sehingga apapun yang dikicaukan pastinya menjadi tanggung jawab pribadi. Namun hal yang sangat disesalkan adalah mengapa harus mengumbar hal yang tak jujur, yang tak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Mungkin suatu hari Anda membuat status : “Asyik... Lebaran dibeliin banyak baju baru oleh pacar. Makasih mas sayang...“ (padahal Anda tak punya pacar dan tak dibelikan baju oleh siapapun. Ini hanyalah ego pribadi agar terlihat eksis dan dikagumi teman-teman di sosial media). Atau ada juga yang membuat status seperti ini : “Bahagianya memiliki banyak orang yang perhatian ma aku. Thank untuk care-nya selama ini....” (dalam beberapa kasus, status seperti ini ternyata hanya untuk menutupi kesepiannya di dunia nyata. Sebenarnya hidupnya terpuruk dan jauh dari perhatian orang).
Inilah yang saya katakan bahwa ‘generasi menunduk’ makin mengkhawatirkan karena mereka telah belajar bahkan sangat cerdas untuk menampilkan kebohongan, terutama dari kelompok ababil. Jangan sampai ini terjadi berlarut-larut karena dapat merusakan akhlak generasi muda karena tak memiliki kejujuran.

2. PENDIDIKAN INSTAN bagi Anak yang Meresahkan
Internet dan perkembangan gadget ternyata menjadi alternatif bagi para orang tua di zaman ini untuk memberikan pendidikan bagi anak mereka. Jadi jangan heran jika di usia balita, para anak sudah pandai memainkan gadget, bahkan lebih pandai dari para orang tua yang melahirkannya. Menurut saya, ini sungguh sangat meresahkan karena sekalipun ini adalah cara mendidik yang praktis dan instan, tapi ini akan menjadikan mereka menjadi generasi yang hanya terkungkung di dalam rumah tanpa belajar ilmu kehidupan di luar rumah.
Bisa Anda lihat sendiri, anak jaman sekarang setelah pulang sekolah, langsung main game atau browsing-browsing tentang segala hal yang menjadi hobi mereka. Seakan-akan anak masa kini tak bisa hidup dan terhibur tanpa pegang Ipad atau tab. Ini sah-sah saja jika tujuan utamanya untuk mengenalkan anak pada teknologi. Tapi ini bisa menjadi masalah baru ketika anak membuka hal-hal yang ‘tak pantas’ atau terlalu vulgar untuk anak seusia mereka, misalnya gambar atau bacaan beraroma ‘seks’ yang membuat psikologi mereka berkembang lebih dewasa dari yang seharusnya. Bukankah orang tua tak ingin merasakan dampak negatif ini bukan?
Oleh karenanya, batasi penggunaan gadget untuk Anak Anda. Dan yang terpenting, perkembangan anak semakin baik jika dia bisa bermain bebas di luar rumah, main becek-becekan, jatuh dari sepeda, dan bisa tertawa hahahihi dengan teman-teman sepantarannya karena berpetualang. Selain mengenalkan mereka dengan kehidupan sosial yang nyata, ini akan mengajarkan mereka lebih mudah berbagi kepada orang lain saat dewasa kelak.

3. Melahirkan Generasi ANTI SOSIAL
Belum banyak yang menyadari bahwa internet secara perlahan akan menarik kita dari kehidupan sosial. Coba bayangkan kondisi kehidupan di bawah ini :
Suatu ketika Anda (wanita) berjalan di sebuah taman dengan membawa smartphone dan asyik cekikian melihat balasan chat Anda bersama teman sosmed Anda. Disana Anda duduk di kursi taman dan tak lama kemudian datanglah seorang pria yang duduk di sebelah Anda sambil membaca komik favorit. Pria itu ingin menyapa Anda dan berkenalan lebih jauh saat menoleh ke arah Anda. Tapi karena melihat Anda terlalu asyik dengan gadget, si pria ini mengurungkan niatnya dan beranjak pergi.
Sekarang bayangkan bagaimana jika Anda tak terlalu sibuk dengan smartphone di tangan Anda dan bisa menanggapi kenalan si pria ini? Bisa jadi, Anda bisa berkenalan dengan si pria bahkan bisa menjalin hubungan cinta yang lebih membahagiakan. Hari-hari Anda makin berwara dengan kasih sayang dan cinta darinya. Anda menikah dan memiliki anak darinya. Anda bahagia bersamanya hingga di masa tua. Dan suatu hari, di usia senja dengan banyak cucu, Anda menyadari bahwa apa yang Anda lakukan ini adalah kompensasi Tuhan atas keputusan tepat Anda di dalam hidup. Untungnya Anda dulu tidak meninggikan ego saat berada di taman. Untung Anda tidak ‘menunduk’ keasyikan mainan internet. Dan untungnya, Anda sangat bijak dalam memanfaatkan internet dan gadget untuk mempersiapkan masa depan Anda.

sumber gambar : www.kompasiana.com
Itulah contoh kecil dalam kehidupan betapa kita sering menarik diri dari kehidupan sosial hanya karena tak bijak dalam memanfaatkan internet. Masih banyak hal lain yang harus kita sadari bersama agar kita memiliki banyak teman dan saudara yang benar-benar perhatian dan sayang kepada kita di kehidupan yang nyata. Jangan pernah abaikan orang yang berdiri di sebelah Anda saat di halte bus, bisa jadi dia adalah orang yang akan memberikan informasi lowonga kerja sehingga Anda bisa mendapatkan pekerjaan yang layak dan mengubah hidup lebih baik.

Apakah Sosial Media Selalu Menguntungkan?
Dulu saat kampung ingin mengadakan kegiatan, warga pasti diminta berkumpul bersama untuk melakukan rapat terkait dengan kegiatan tersebut. Tentu ini menambah kebersamaan dan keeratan antar anggota masyarakat karena sering bertemu sapa. Sekarang, hanya dari SMS atau chat sosmed, keputusan tiba-tiba sudah diberitahukan dan kita tinggal eksekusi.
Dulu setiap ingin belanja, kita harus keluar rumah dimana selama perjalanan ke supermarket, kita akan saling bertegur sapa dengan tetangga dan kenalan sehingga hidup kian berwarna dan mempererat hubungan dengan sesama. Sekarang, solusi praktis sudah menghinggapi masyarakat dengan belanja praktis hanya dari onlineshop. Tinggal pesan, transfer uang dan barang dikirim ke rumah.


***
Kini kita yang dapat menyimpulkan sendiri bahwa intenet dan gadget memang membawa manfaat bagi masyarakat karena dipastikan seluruh aktivitas akan lebih mudah, praktis, cepat dan efektif. Namun, di sisi lain, kita pun harus dapat memanfaatkan internet secara bijak agar tak menimbulkan permasalahan dan penyesalan di masa depan. Kenyataannya, saat ini para ‘generasi menunduk’ semakin banyak kita lihat di pusat keramaian, jalanan, tempat wisata, mall dll. Sudah tulikah kita dengan suara berisik orang-orang sekitar yang asyik bercengkrama? Sudah butakah kita dengan mereka yang berjalan beriringan bersama kita di keramaian? Sudah bisukah kita untuk menyapa mereka yang kita kenal hanya karena keasyikan mainan internet di tempat umum?

Di masa ini, kita telah menjadi korban dari perkembangan teknologi. Jadi, jangan biarkan anak-anak kita merasakan hal yang makin parah di masa depan. Jadikan mereka tetap memprioritaskan kehidupan sosial dan lebih bahagia saat bertemu dengan banyak orang. Jangan biarkan ruang keluarga sepi hanya karena setiap anggota keluarga asyik dengan gadget masing-masing. Kekonyolan karena internet takkan terjadi jika kita sama-sama dewasa dalam menanggapi perkembangan teknologi yang luar biasa di masa ini. Oleh karena itu, jangan bodohi diri sendiri karena dikuasi teknologi. Kita adalah manusia cerdas yang harus lebih pandai menguasai teknologi sehingga dapat memperlakukan teknologi ini dengan lebih bijak, terutama internet.

@Riana Dewie



0 komentar:

Post a Comment

Yuuukk, komentar disini :)