Photo Profile

Riana Dewie
Content Creator

Hi, perkenalkan saya Riana Dewie. Seorang freelancer yang senang menekuni banyak hal menarik, terutama dunia menulis dan media sosial. Terimakasih sudah singgah, terimakasih juga telah mengajak bekerjasama. Much love ...
Read More




Riana Dewie
Riana Dewie

Inilah Perbedaan Misinformasi, Disinformasi, dan Malinformasi

Masih bingung perbedaan misinformasi dan disinformasi? Simak pengertian, contoh, penyebab, dampak, serta cara menghindari penyebaran informasi salah.

 Perbedaan misinformasi disinformasi dan malinformasi

Pernah gak kamu menerima sebuah pesan di grup WhatsApp, lalu langsung tergoda untuk meneruskannya? 

Padahal, setelah dicek lagi, ternyata informasi tersebut belum tentu benar. Fenomena seperti ini semakin sering terjadi seiring derasnya arus informasi di era digital.

Karena itulah, memahami perbedaan misinformasi, disinformasi, dan malinformasi menjadi hal yang penting. 

Ketiga istilah ini sama-sama berkaitan dengan informasi yang menyesatkan, tetapi memiliki pengertian, tujuan, dan dampak yang berbeda.

Sekilas memang terlihat mirip. Bahkan, banyak orang masih menganggap semuanya sebagai hoaks. 

Padahal, mengetahui perbedaannya dapat membantu kita lebih bijak dalam menerima maupun membagikan informasi kepada orang lain.

Sadar Hoaks Sejak Dini

Informasi dapat hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari tulisan, foto, video, rekaman suara, hingga cerita yang beredar dari mulut ke mulut. 

Sayangnya, gak semua informasi tersebut telah melalui proses verifikasi atau memiliki sumber yang jelas.

Ada informasi yang keliru karena kesalahan tanpa disengaja, ada pula yang memang sengaja dibuat untuk menyesatkan masyarakat demi kepentingan tertentu. 

Inilah yang kemudian melahirkan berbagai bentuk hoaks yang kini semakin mudah menyebar melalui media sosial maupun aplikasi percakapan.

Secara umum, hoaks merupakan informasi palsu atau informasi yang dipelintir sehingga menghasilkan persepsi yang berbeda dari fakta sebenarnya. 

Motifnya pun beragam, mulai dari sekadar bercanda, mencari perhatian, memperoleh keuntungan, hingga memengaruhi opini publik.

Macam-Macam Informasi Menyesatkan yang Perlu Kamu Ketahui

Sebelum membahas lebih jauh tentang perbedaan misinformasi, disinformasi, dan malinformasi, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu bagaimana organisasi internasional mengelompokkan jenis-jenis informasi yang menyesatkan.

UNESCO melalui publikasi Journalism, Fake News and Disinformation (2018) membagi fenomena tersebut menjadi tiga kategori utama, yaitu misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. 

Ketiganya sama-sama berkaitan dengan penyebaran informasi, tetapi memiliki karakteristik yang berbeda.

Lalu, apa sebenarnya perbedaan dari ketiga istilah tersebut? Yuk, kita bahas satu per satu.

Perbedaan Misinformasi, Disinformasi, dan Malinformasi

Setelah memahami bahwa hoaks memiliki berbagai bentuk, sekarang saatnya mengenal perbedaan antara misinformasi, disinformasi, dan malinformasi. 

Ketiga istilah ini memang sering digunakan secara bergantian, padahal maknanya gak sama.

1. Misinformasi

Misinformasi adalah informasi yang ternyata gak benar atau kurang akurat, tetapi orang yang menyebarkannya percaya bahwa informasi tersebut benar. 

Dengan kata lain, penyebar misinformasi biasanya gak memiliki niat untuk menipu orang lain. Mereka justru merasa sedang membantu, mengingatkan, atau berbagi informasi yang dianggap bermanfaat.

Contohnya, seseorang membagikan pesan berantai tentang bahaya makanan tertentu tanpa mengecek kebenarannya terlebih dahulu. Niatnya baik, tetapi informasi yang disampaikan ternyata keliru.

2. Disinformasi

Berbeda dengan misinformasi, disinformasi merupakan informasi palsu yang memang sengaja dibuat untuk menyesatkan masyarakat. 

Pelakunya mengetahui bahwa informasi tersebut tidak benar, tetapi tetap menyebarkannya demi tujuan tertentu, seperti memengaruhi opini publik, menjatuhkan pihak lain, memperoleh keuntungan ekonomi, atau kepentingan politik.

Karena dibuat secara sengaja, disinformasi biasanya dikemas semeyakinkan mungkin sehingga terlihat seperti berita yang valid.

3. Malinformasi

Malinformasi sedikit berbeda. Informasi yang disampaikan sebenarnya berasal dari fakta atau data yang benar, tetapi digunakan di luar konteks atau disebarkan dengan tujuan merugikan pihak lain.

Contohnya adalah penyebaran data pribadi seseorang tanpa izin, potongan video yang sengaja dipublikasikan untuk membangun opini negatif, hingga penyebaran ujaran kebencian yang memanfaatkan informasi asli.

Dengan memahami ketiga kategori tersebut, kita jadi tahu bahwa gak semua hoaks memiliki motif yang sama. 

Ada yang muncul karena ketidaktahuan, ada pula yang memang dirancang untuk memanipulasi masyarakat.

Bagaimana Cara Mengenali Misinformasi dan Disinformasi?

Di era media sosial, informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Karena itu, kemampuan berpikir kritis menjadi salah satu bekal penting agar kita gak mudah terjebak informasi yang menyesatkan.

Beberapa ciri informasi yang patut diwaspadai antara lain:

  • Terdengar terlalu sensasional atau terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
  • Mendorong pembaca agar langsung percaya tanpa melakukan verifikasi.
  • Memancing emosi secara berlebihan, baik rasa marah, takut, maupun euforia.
  • Tidak mencantumkan sumber yang jelas atau menggunakan data yang sudah usang.
  • Judulnya provokatif, tetapi isi beritanya tidak sesuai.

Cara Memverifikasi Informasi Sebelum Membagikannya

Supaya gak ikut menyebarkan hoaks, biasakan melakukan pengecekan sederhana sebelum menekan tombol share.

  • Periksa siapa penulis atau narasumbernya.
  • Cek kredibilitas media atau organisasi yang menerbitkan informasi.
  • Lihat tanggal publikasi agar gak tertipu berita lama yang diunggah ulang.
  • Cari bukti pendukung berupa data, dokumen, atau penelitian.
  • Bandingkan dengan sumber terpercaya lainnya.

Intinya, selalu cari tahu dari mana sebuah informasi berasal sebelum mempercayai atau menyebarkannya. 

Semakin banyak sumber terpercaya yang mengonfirmasi informasi tersebut, semakin besar pula peluang bahwa informasi itu memang valid.

Di era digital seperti sekarang, menjadi pengguna internet yang bijak sama pentingnya dengan memiliki akses informasi. 

Yuk, mulai biasakan melakukan fact-checking agar kita gak ikut menjadi bagian dari rantai penyebaran hoaks.

Baca juga artikel kami tentang tips seputar teknologi dan literasi digital untuk menambah wawasan dalam menghadapi berbagai informasi di internet.

Referensi mengenai klasifikasi misinformasi, disinformasi, dan malinformasi dapat kamu pelajari lebih lanjut melalui publikasi UNESCO maupun berbagai platform pemeriksa fakta terpercaya.

FAQ Seputar Misinformasi, Disinformasi, dan Malinformasi

Apa yang dimaksud misinformasi?

Misinformasi adalah informasi yang salah atau tidak akurat, tetapi disebarkan tanpa niat menyesatkan. Orang yang membagikannya biasanya percaya bahwa informasi tersebut benar.

Apa perbedaan misinformasi dan disinformasi?

Perbedaan utamanya terletak pada niat penyebarnya. Misinformasi disebarkan tanpa sengaja, sedangkan disinformasi dibuat dan disebarkan secara sengaja untuk menipu atau memengaruhi opini publik.

Apa itu malinformasi?

Malinformasi merupakan informasi yang sebenarnya benar, tetapi disebarkan di luar konteks atau digunakan untuk merugikan seseorang maupun kelompok tertentu.

Mengapa hoaks mudah menyebar di media sosial?

Hoaks mudah menyebar karena memanfaatkan emosi pembaca, seperti rasa takut, marah, atau penasaran. Banyak orang langsung membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu.

Bagaimana cara mengenali berita hoaks?

Periksa sumber informasi, identitas penulis, tanggal publikasi, data pendukung, serta bandingkan dengan media terpercaya sebelum mempercayai atau membagikannya kepada orang lain.

Posting Komentar

Hi, terimakasih atas kunjungannya. Silakan bertanya atau berdiskusi dengan menulis di kolom komentar.