Photo Profile

Riana Dewie
Content Creator

Hi, perkenalkan saya Riana Dewie. Seorang freelancer yang senang menekuni banyak hal menarik, terutama dunia menulis dan media sosial. Terimakasih sudah singgah, terimakasih juga telah mengajak bekerjasama. Much love ...
Read More




Riana Dewie
Riana Dewie

Deadline Lomba Tinggal Hitungan Menit, Mata SePeLe Mulai Protes

Drama mengejar deadline lomba blog hingga menit terakhir, saat Mata SePeLe mulai mengganggu fokus. Ini pengalaman dan cara saya menjaga mata.
Deadline Lomba Tinggal Menit, Mata SePeLe Mulai Protes

Jam di pojok layar laptop sudah menunjukkan 23.00 WIB.

Saya masih menatap artikel yang belum benar-benar aman, sementara batas waktu lomba tinggal kurang dari satu jam. Deadline-nya pukul 23.59. 

Artinya, saya punya waktu sekitar 59 menit untuk memastikan tulisan sudah sesuai, foto masuk, link aman, dan yang paling penting: berhasil dipublikasikan.

Buat orang lain mungkin terdengar sepele. Tinggal publish, selesai.

Tapi kalau sudah berhadapan dengan lomba blog, kalimat "tinggal publish" itu kadang bisa menjadi awal dari drama panjang. Hihihihi....

Saat Lomba Anti Baca Artikel Peserta Lain

Tahu gak, saya termasuk orang yang justru gak suka membaca artikel peserta lain sebelum menulis atau mempublikasikan tulisan saya. Bukan karena gak mau belajar dari peserta lain, apalagi merasa tulisan saya paling bagus. Saya cuma takut terdistraksi.

Saya khawatir membaca tulisan peserta lain malah membuat ide saya berubah. Bisa saja saya menemukan kalimat yang ternyata mirip dengan apa yang sudah saya pikirkan. 

Atau lebih parah, saya mendadak merasa tulisan orang lain jauh lebih bagus, lalu mulai meragukan tulisan sendiri.

Jadi, kalau saya membaca artikel orang lain, biasanya memang artikel referensi yang saya perlukan untuk riset. Bukan artikel peserta lomba yang sudah lebih dulu posting.

Saya ingin menyelesaikan tulisan dengan kepala sendiri terlebih dahulu.

Banyak Drama di Detik-Detik Terakhir

Pernah suatu kali saya sudah sangat pede dengan artikel yang dibuat. Rasanya semua unsur lomba sudah masuk. 

Keyword ada, struktur sudah disesuaikan, informasi sudah dicari, dan saya merasa tinggal menunggu waktu untuk publish.

Ternyata saya salah.

Saat membaca ulang brief lomba menjelang deadline, saya menemukan satu bagian yang ternyata saya tangkap keliru.

Deg.

Rasanya seperti baru sadar ada pekerjaan rumah yang selama ini saya kira sudah selesai.

Saya langsung mengerahkan energi untuk membongkar artikel tersebut. Untungnya, revisinya "hanya" sekitar 30 persen. Bagian lainnya masih aman. Tapi tetap saja, menemukan kesalahan ketika waktu sudah mepet itu bikin grogi minta ampun.

Saya sampai berpikir, "Ini gara-gara terlalu pede sama tulisan sendiri, nih."

Mungkin bisa dibilang sedikit keras kepala juga. Terlalu percaya bahwa saya sudah memahami brief dengan benar, sehingga lupa melakukan satu hal sederhana: membaca ulang persyaratan dengan kepala yang lebih tenang.

Walaupun endingnya masuk sebagai pemenang di lomba ini. Hihihi
Walaupun endingnya masuk sebagai pemenang di lomba ini. Hihihi (doc. Riana Dewie)


Dan itu baru satu cerita.

Ada drama lain yang menurut saya jauh lebih bikin jantung berdebar.

Pernah saya sudah siap posting, tetapi justru blog atau website mengalami gangguan karena banyak peserta melakukan hal yang sama. Maklum, peserta lomba biasanya punya kebiasaan unik: menunggu sampai jam-jam terakhir untuk mengunggah artikel.

Akibatnya, akses bisa terasa lebih lambat atau proses posting gak semulus biasanya.

Sementara jarum jam terus bergerak.

23.40.

23.50.

23.58.

Di situ saya mulai gak bisa bercanda lagi.

Sebab kalau artikel baru berhasil terpublikasi di angka 23.59, beberapa detik setelahnya sudah masuk pukul 00.00. 

Kalau aturan lombanya ketat, selisih waktu seperti itu bisa menjadi pembatas antara "resmi menjadi peserta" dan "maaf, sudah lewat deadline".

Ngeri-ngeri sedap, ya?

Saya sih sekarang kalau mengingatnya masih bisa tertawa. Tapi ketika mengalaminya langsung, rasanya tangan dingin, mata fokus ke layar, dan otak bekerja jauh lebih cepat daripada biasanya.

Belum lagi kalau tiba-tiba sadar foto belum masuk, menemukan typo, koneksi internet bermasalah, Blogger lambat, atau tombol submit seperti sengaja menguji kesabaran.

Di menit-menit seperti itu, satu kesalahan kecil bisa terasa seperti bencana besar. Dan tanpa saya sadari, ada satu bagian tubuh yang ikut bekerja keras sejak tadi.

Mata saya.

Di Tengah Panik, Mata Saya Mulai SePeLe

Mungkin karena terlalu tegang, saya jadi menatap layar laptop dengan tatapan yang rasanya lebih tajam dari biasanya. 

Semua harus terlihat jelas. Typo harus ketemu. Foto harus berada di posisi yang benar. Link harus bisa dibuka. Kalimat harus saya baca ulang.

Masalahnya, semakin panik, semakin sulit rasanya mengalihkan pandangan.

Layar laptop tetap menyala terang di depan mata. Saya terus membaca, mengedit, mengecek, lalu kembali membaca. 

Sesekali tangan berpindah ke keyboard, kemudian ke mouse, lalu kembali lagi ke keyboard.

Tahu gak, dalam kondisi seperti itu saya sering gak sadar sudah terlalu lama menatap layar dan kurang berkedip. 

Fokus mengejar deadline membuat perhatian saya cuma tertuju pada satu hal: artikel harus tayang sebelum 23.59.

Mata mulai terasa sepet.

Awalnya saya abaikan.

Beberapa menit kemudian muncul rasa pedas. Saya mengucek mata sebentar, lalu kembali menatap layar. Bukannya berhenti, saya malah berpikir, "Nanti saja istirahatnya setelah berhasil publish."

Nah, ini yang sekarang saya sadari sebagai kebiasaan yang kurang baik.

Mata terasa gak nyaman bukan berarti saya harus langsung berhenti dari semua aktivitas. Tetapi setidaknya, saya perlu memberikan jeda. Mengalihkan pandangan sejenak, lebih sering berkedip, dan gak terus memaksa mata bekerja dalam kondisi yang sudah terasa lelah adalah hal sederhana yang bisa dilakukan.

Apalagi saat mengejar deadline, kita sering merasa waktu istirahat adalah pemborosan.

Padahal, apa gunanya menghemat lima menit untuk istirahat kalau akhirnya membutuhkan waktu lebih lama karena mata sudah gak nyaman dan konsentrasi ikut terganggu?

Ternyata ini Gejala Mata Kering

Saya kemudian mulai mencari tahu lebih banyak tentang keluhan yang saya rasakan. Dari situ saya mengenal istilah Gejala Mata Kering

Beberapa keluhan seperti mata terasa sepet, perih, kering, atau lelah ternyata memang bisa muncul dan membuat aktivitas di depan layar terasa kurang nyaman.

Saya jadi teringat bahwa selama mengikuti berbagai lomba blog, saya memang cukup sering berada dalam situasi seperti ini. Bukan cuma saat menulis. 

Kadang setelah artikel selesai, saya masih harus melakukan banyak hal lain: mengecek ulang brief, memasukkan foto, memastikan link, memperbaiki format, sampai memastikan artikel benar-benar sudah bisa diakses.

Semuanya dilakukan sambil melihat layar.

Kalau sedang santai, mungkin saya masih ingat untuk berhenti sebentar. Tapi ketika angka di jam sudah mendekati 23.59?

Wah, ceritanya berbeda. Wkwkwkwk....

Saya bisa lupa makan, lupa minum, bahkan lupa bahwa mata juga butuh istirahat.

Padahal lomba blog seharusnya menjadi tempat untuk mengasah kemampuan menulis dan menikmati proses kreatif. Jangan sampai keseruan mengejar kemenangan justru membuat saya mengabaikan kondisi tubuh sendiri.

Dari pengalaman-pengalaman itulah saya mulai belajar bahwa deadline memang harus dihormati, tetapi kesehatan juga gak boleh dianggap sebagai urusan nanti.

Karena dalam dunia lomba blog, drama sebenarnya kadang bukan terjadi saat mencari ide atau menulis artikel.

Drama paling menegangkan justru bisa dimulai ketika artikel sudah selesai.

Drama Menit Terakhir yang Bikin Saya Belajar

Kalau saya mengingat kembali pengalaman mengikuti lomba blog, rasanya ada saja cerita yang bisa dijadikan bahan tulisan. Ada yang lucu setelah semuanya selesai, tetapi ada juga yang saat terjadi membuat saya cuma bisa menatap layar sambil menarik napas panjang.

1. Artikel Sudah Jadi, Tapi Masih Saya Bongkar Lagi

Ini penyakit klasik blogger, menurut saya.

Artikel sudah selesai, tetapi tangan masih saja ingin mengubah sesuatu. Judul terasa kurang pas. Satu kalimat diganti. Lalu dibaca lagi. Ternyata kalimat sebelumnya lebih enak. Diganti lagi.

Saya sih pernah berada di fase seperti itu. Padahal kalau artikel sudah memenuhi brief dan informasi yang disampaikan sudah jelas, seharusnya saya bisa berhenti.

Tetapi namanya juga ingin memberikan tulisan terbaik.

Masalahnya, semakin dekat dengan deadline, revisi kecil bisa berubah menjadi pekerjaan besar. Satu paragraf dibongkar, paragraf lain ikut berubah. Kemudian saya membaca keseluruhan artikel lagi dari awal.

Begitu terus.

Akhirnya waktu yang seharusnya dipakai untuk posting malah habis untuk mengedit sesuatu yang sebenarnya sudah cukup baik.

2. Tinggal Upload, Masalah Baru Muncul

Drama berikutnya biasanya muncul ketika saya merasa semuanya sudah beres.

Foto ternyata belum masuk.

Ada typo yang baru kelihatan setelah artikel tayang.

Link belum dicek.

Format tulisan berubah ketika masuk ke platform.

Atau yang paling bikin deg-degan: koneksi internet tiba-tiba gak bersahabat.

Tahu gak, kalau semua itu terjadi satu jam sebelum deadline, saya masih bisa menarik napas dan memperbaikinya. Tapi kalau terjadi lima menit sebelum batas waktu, ceritanya langsung berubah menjadi film thriller versi blogger. Hahaha....

Saya pernah merasakan sendiri bagaimana angka jam di layar terasa bergerak jauh lebih cepat daripada biasanya.

23.57.

Saya masih mengecek.

23.58.

Saya mulai panik.

23.59.

Saya cuma berharap proses posting selesai.

Lucunya, setelah artikel berhasil tayang, rasanya lega sekali. Bukan karena yakin akan menang, tetapi karena satu tugas penting sudah berhasil dilewati.

3. Saat Deadline Lebih Cepat dari Rasa Panik

Dari semua drama itu, saya akhirnya belajar satu hal: jangan memberikan kesempatan kepada deadline untuk menjadi bos kita.

Memang gak semua hal bisa dikontrol. Website bisa bermasalah, koneksi bisa melambat, atau kesalahan kecil bisa baru terlihat di menit terakhir.

Tetapi beberapa hal sebenarnya bisa dipersiapkan lebih awal.

Foto bisa disiapkan sebelum artikel selesai. Draft bisa disimpan. Brief bisa dibaca ulang. Link bisa dicek. Artikel gak perlu terus-menerus dibongkar ketika waktunya sudah terlalu dekat.

Dan satu lagi yang belakangan semakin saya perhatikan: kondisi mata.

Ketika sedang fokus mengejar deadline, saya bisa lupa berkedip. Saya bisa duduk terlalu lama di depan laptop. Bahkan saya bisa merasa mata sudah sepet dan pedas, tetapi masih berkata dalam hati, "Nanti saja."

Padahal justru saat itulah tubuh sedang memberi sinyal.

Oh ya, saya juga belajar bahwa istirahat sebentar gak selalu berarti kehilangan produktivitas. 

Kadang lima menit untuk berdiri, melihat jauh dari layar, minum air, atau sekadar memejamkan mata justru membuat saya bisa kembali membaca tulisan dengan lebih jernih.

Buat saya, mengikuti lomba blog memang soal kompetisi. Ada keinginan untuk menang, ada target yang ingin dicapai, dan tentu saja ada rasa senang ketika tulisan berhasil masuk sebagai pemenang.

Tapi dari banyak lomba yang saya ikuti, gak semuanya berakhir dengan "pecah telur".

Dan saya tetap bersyukur.

Sebab setiap lomba memberi kesempatan untuk mengasah kemampuan, mencoba ide baru, belajar memahami brief, dan yang paling penting, berani mengirimkan tulisan.

Menang tentu menyenangkan. Tetapi terus berani mencoba juga sebuah pencapaian.

Mungkin itulah alasan sampai sekarang saya masih suka mengikuti lomba blog, meskipun drama deadline kadang datang seperti paket lengkap.

Hihihihi....

Dan setelah mengalami cukup banyak drama, saya akhirnya punya beberapa cara sendiri supaya deadline gak lagi terasa seperti kejar-kejaran sampai menit terakhir.

Sejak Itu, Saya Punya Cara Sendiri Mengejar Deadline

Saya gak bisa menjanjikan bahwa setelah ini setiap lomba akan berjalan mulus. Namanya juga menulis, selalu ada saja kejutan. 

Tetapi setidaknya saya bisa mengurangi kemungkinan panik dengan menyiapkan beberapa hal lebih awal.

1. Jangan Menunggu Hari Terakhir

Ini terdengar klise, tetapi memang paling masuk akal. Kalau artikel bisa diselesaikan beberapa hari sebelumnya, kenapa harus menunggu malam terakhir?

Saya biasanya berusaha memberi jarak antara selesai menulis dan waktu posting. Dengan begitu, saya masih punya kesempatan membaca ulang tulisan menggunakan kepala yang lebih tenang.

2. Siapkan Foto dan Elemen Pendukung

Foto sering dianggap pekerjaan kecil, padahal bisa memakan waktu. Apalagi kalau harus memilih gambar, mengedit ukuran, memberi nama file, lalu memasukkannya satu per satu ke artikel.

Karena itu, sekarang saya lebih suka menyiapkan foto sebelum mendekati deadline. Begitu artikel selesai, tinggal memasangnya.

3. Simpan Draft dan Jangan Terlalu Sering Membongkar Tulisan

Saya belajar membedakan antara revisi yang memang penting dan revisi karena tiba-tiba merasa tulisan saya kurang bagus.

Kalau sudah mendekati waktu submit, saya lebih memilih memastikan semua persyaratan terpenuhi daripada mengubah kalimat hanya karena sedang gak percaya diri.

Toh, artikel yang terus dibongkar sampai menit terakhir justru berpotensi membuat kesalahan baru.

4. Beri Jeda untuk Mata

Ini bagian yang sekarang gak lagi saya anggap sepele.

Ketika sedang bekerja di depan laptop, saya berusaha sesekali mengalihkan pandangan dari layar. Saya juga mencoba lebih sering berkedip dan memberikan waktu bagi mata untuk beristirahat.

Kalau mata mulai terasa sepet, pedas, atau lelah, saya gak mau lagi langsung menganggapnya sebagai gangguan kecil yang harus ditahan sampai pekerjaan selesai.

Menjaga kesehatan mata saat bekerja memang terdengar sederhana, tetapi dampaknya terasa ketika kita harus berkutat dengan layar selama berjam-jam.

Jangan Memaksakan Diri Saat Tubuh Sudah Memberi Sinyal

Saya dulu sering berpikir bahwa selama artikel belum publish, berarti saya harus terus bekerja.

Sekarang saya mencoba mengubah pola pikir itu.

Produktif bukan berarti harus duduk tanpa jeda selama berjam-jam. Justru saya ingin bekerja dengan konsentrasi yang tetap baik sampai artikel selesai.

Kalau mata sudah terasa gak nyaman, saya memilih berhenti sejenak. Toh, deadline bisa direncanakan. Tubuh gak bisa diajak bernegosiasi sesuka hati.

Deadline Boleh Dikejar, Mata Jangan Dikorbankan

Saya mungkin masih akan mengikuti lomba blog.

Saya juga mungkin masih akan mengalami malam-malam ketika jam menunjukkan 23.00 dan artikel belum benar-benar aman. Bahkan saya yakin suatu hari nanti saya masih bisa panik melihat angka 23.59 di layar laptop.

Wkwkwkwk....

Bedanya, sekarang saya gak ingin menganggap drama seperti itu sebagai sesuatu yang harus selalu dialami.

Saya ingin tetap menikmati proses menulis. Tetap belajar membuat tulisan yang lebih baik. Tetap berani mengikuti kompetisi meskipun gak selalu menang. Dan tentu saja tetap menjaga kondisi tubuh selama menjalani prosesnya.

Tahu gak, setelah cukup sering mengikuti lomba, saya justru semakin memahami bahwa kemenangan bukan hanya soal nama yang muncul sebagai pemenang. 

Ada keberanian untuk mencoba, kemauan belajar dari kesalahan, dan konsistensi untuk kembali menulis setelah satu lomba selesai.

Buat saya, itu juga bagian dari perjalanan seorang blogger.

Jadi, jika suatu malam nanti saya kembali berhadapan dengan deadline pukul 23.59, saya ingin sudah lebih siap. 

Artikel sudah dicek, foto sudah tersedia, koneksi sudah dipastikan, dan yang paling penting, saya gak lagi menganggap mata sebagai bagian tubuh yang bisa terus dipaksa bekerja.

Karena tulisan yang bagus memang layak diperjuangkan. Tetapi kesehatan diri juga layak dijaga.

Saya masih ingin menulis banyak artikel, mengikuti lebih banyak lomba, merasakan deg-degan sebelum tombol submit ditekan, lalu tersenyum lega ketika semuanya berhasil terkirim.

Untuk membantu menjaga kenyamanan mata ketika harus berhadapan dengan layar dalam aktivitas sehari-hari, saya pun menyediakan INSTO DRY EYES dan menggunakannya saat dibutuhkan. 


INSTO DRY EYES menemani saya setiap 'bertempur' di depan layar (doc. Riana Dewie)
INSTO DRY EYES menemani saya setiap 'bertempur' di depan layar (doc. Riana Dewie)


Sebab deadline boleh dikejar sampai detik terakhir, tetapi jangan sampai Mata SePeLe membuat perjalanan menulis yang kita cintai justru terasa berat.

***

Saya masih ingin menulis banyak artikel, mengikuti lebih banyak lomba, merasakan deg-degan sebelum tombol submit ditekan, lalu tersenyum lega ketika semuanya berhasil terkirim.

Untuk membantu menjaga kenyamanan mata ketika harus berhadapan dengan layar dalam aktivitas sehari-hari, saya pun menyediakan INSTO DRY EYES dan menggunakannya sesuai petunjuk pada kemasan.

Jadi, buat kamu yang juga sering berhadapan dengan laptop, bekerja berjam-jam di depan layar, atau punya kebiasaan mengejar deadline sampai lupa waktu, jangan abaikan ketika mata mulai terasa sepet, perih, atau lelah. 

Berikan jeda, jaga kenyamanan mata, dan siapkan solusi yang bisa digunakan saat dibutuhkan.

Karena tulisan yang bagus memang layak diperjuangkan. Tapi kesehatan diri juga gak kalah penting.

Deadline boleh dikejar. Tulisan boleh diperjuangkan. Tapi jangan biarkan Mata SePeLe mengganggu aktivitas yang kamu sukai. Yuk, lebih peduli pada kenyamanan mata mulai dari sekarang!


Posting Komentar

Hi, terimakasih atas kunjungannya. Silakan bertanya atau berdiskusi dengan menulis di kolom komentar.